Showing posts with label eMarketing. Show all posts
Showing posts with label eMarketing. Show all posts

Sunday, April 4, 2010

Intelligence aint no espionage

Dalam pasar yang kompetitif tidak cukup organisasi pemasaran bergerak melaju sendiri seolah berada dalam ruang hampa, perlu kesadaran kompetitif dan pengetahuan yang cukup untuk menghindari kejutan yang tak perlu. Terlebih dalam konteks hyper competition yang diwarnai dengan derasnya distorsi informasi. Demikian maka kebutuhan akan eksistensi fungsi intelijen pemasaran yang cakap di butuhkan.

SCIP (Society of Competitive Intelligence Profesionals) memperkenalkan konsep self diagnostic untuk menelisik sejauh mana sebuah organisasi sudah memiliki pasukan telik sandi yang cakap. Dalam proses evaluasi ini tahap evolusi perkembangan kecakapan intelijen dibagi kedalam empat maqamat. Pertama adalah Stick Fetching, seperti arti harfiahnya tim intelijen hijau di ibaratkan selayaknya anjing jinak yang akan mengejar kayu yang dilemparkan oleh tuannya sang jajaran Manajemen. Ditahap primitif ini tak ada konsepsi yang baku, tim CI akan bergerak dalam perilaku fire fighting, mencari data dan informasi sesuai pesanan, alias Ad-Hoc. Tak ada keterkaitan emosional dengan manajemen, fungsi CI di level ini hanyalah pelengkap penderita unit lain.

Sementara di maqomat kedua, dikenal sebagai Pilot, ketika Tim CI sudah mulai menggerakkan organisasinya dalam track yang terencana dan sistematik. JIkalau di level dasar data collection lebih kepada Ad Hoc Desk Top Research plus media content analysis, di tahap Pilot maka Data Collection sudah lebih bervariasi, dan agak sedikit ilmiah misalnya menggunakan metode sampling, bahkan menerapkan KIT (Key Intelligence Topics), namun masih terbatas pada follow up momentum mirip Pearl Harbor, misalnya seketika mendapati hantaman keras kompetitor, maka lahirlah mitigasi yang berkelanjutan dan sistematik. Dalam level ini Tim sudah bisa mendeliver routine report dan analytics, beserta rekomendasi rekomendasi yang lebih terstruktur.

Level ketiga yang lebih Advanced adalah level Proficient, yaitu CI yang sudah trampil memadu padankan sumber informasi baik desk research, field research, analysis report, bahkan tracking, home grown war gaming dan lainnya. Dalam konteks ini KIT sudah tak sekedar dibuat secara reaktif, namun lebih mapan dalam format KIT Based Plan, dimana diadakan fact finding ke manajemen tentang Key Initiative apa dan Risk apa yang diidentifikasi dibutuhkan untuk ditindaklanjuti.

KIT Based Plan pada Intinya akan mengcover setidaknya tiga issue, pertama adalah Strategic Plan Support, kedua adalah Early Warning (read Ben Gillad on this topics), dan terakhir adalah Key Player Tracking (5 Forces Model Deep Diving).  Nah di tahap Proficient ini bertemulah harapan manajemen dengan deliverable nya CI Team, bahkan CI sudah embedded dalam key business process serta follow through process.

Nah puncak dari level CI sesuai SCIP diagnostic adalah level World Class, nah yang ini saya lihat sangat fasih dimainkan oleh Vodafone, dan beberapa World Class Company yang saya masih mempelajarinya. Satu kalimat yang amat menjelaskan tahap superfisial ini adalah ditemukannya keyakinan bahwa setiap keputusan penting tak layak diambil tanpa adanya informasi intelijen yang cukup dan reliable.

Demikian maka intelijen amat berbeda dengan mitos industrial espionage yang sarat dengan kisah penyadapan, pencurian informasi, covert ops, mule, dumpster diving dan polah layaknya james bond korporasi. CI bagi saya adalah another art of thinking and delivering insight.

Saturday, April 3, 2010

Simak

Agak terkejut membaca statement salah seorang pengelola perpustakaan nasional, konon Indonesia No.1 pengakses terbesar situs book.google.com se asia pasifik, unik karena biasanya berita yang muncul banyak menyitir betapa besarnya jumlah pengakses situs pornografi di negri ini. Pertanyaan yang muncul, bagaimana sesungguhnya pola media consumption orang Indonesia dilihat dari perspektif learning style? dan bagaimana pola interaksi dengan media itu mempengaruhi perilaku belajar, perkembangan pemikiran, bahkan aktualisasinya ?

Salah satu learning model yang sering dikutip khalayak adalah Flemming VARK models, yang juga dikenal sebagai (early) Neuro Linguistic Programming, teori ini membagi gaya belajar dalam 4 pola:

  1. Visual: preferensi belajar dengan melihat gambar, presentasi, video, dll
  2. Auditory: mendengar command, audiobook, kuliah, diskusi, dll
  3. Reading & Writing
  4. Kinesthetic: pengalaman fisikal, menyentuh, bergerak, meniru, aktif eksplorasi

Dalam case mengajarkan humam mungkin saya akan gunakan semua cara diatas, namun bahasan topik tulisan ini mencoba melihat sebenarnya bagaimanakah pola interaksi antara konsumen media indonesia dengan medium nya itu. Hints pertama adalah betapa media TV sedemikan kuat menjangkau audiens; Saya kutip dari Asiamediajournal:

“TV is a notable beneficiary in markets such as the Philippines, Malaysia, Indonesia and Vietnam. Key drivers include exposure to key events, such as elections and World Cup football, but also growing economic dynamism, fueled by domestic demand".

Uniknya gejala tingginya konsumsi media audiovisual terestrial ini juga terjadi pada media audio visual internet. Meski dibawah akses Situs Jejaring sosial, blog dan mesin pencari, akses ke youtube adalah nomer 5 terbesar tujuan akses internet dari Indonesia.
 
Saya menduga masyarakat Indonesia kebanyakan lebih Visual-Auditory ketimbang Readers bahkan kinestetik; penyebab pertama adalah institusi pendidikan yang membentuk kita untuk lebih melihat dan mendengar, ketimbang membaca, menulis, dan mengalami.
 
Kedua adalah faktor deraan media, memang belakangan buku dan dunia pustaka tumbuh demikian pesat, namun waktu yang kita habiskan untuk menonton TV umumnya jauh lebih banyak dari waktu yg dipakai untuk membaca. Masyarakat memberikan insentif kepada industry televisi berupa viewership yang begitu besar, Jangkaun televisi yang meluas, konten yang tumbuh dan makin melimpah ruah, alternatif channel yang banyak, bahkan peristiwa demi peristiwa membawa orang semakin merasa hidup ketika menyaksikan Televisi.
 
Hadirnya internet yang diawal lebih menyajikan konten berupa tulisan, belakangan bergeser menjadi media audio visual dengan pertumbuhan kecepatan prosesor dan menggelembungnya Bandwidth. Bahkan roadmap inovasi di Telekomunikasi justru berujung pada kemampuan teknologi mendekati positioning multimedia, dan konvergensi.
 
Perilaku belajar pun semakin bergerak ke ranah audio visual, di kelas sang murid harus berhadapan dengan guru yang menuliskan instruksi dan konten di whiteboard (atau papan tulis di era saya), belakangan beberapa sekolah dan kampus sudah melengkapi fasilitas belajar dengan power point over head projector, bahkam multi media theater.
 
Di internet sudah semakin banyak di upload kuliah kuliah online, lalu industri distance learning menjadi menjamur, lynda.com merupakan benchmark monumental dari pencapaian multimedia learning.
 
Kedepan kehadiran HSPA+, LTE, WiMAX, EVDO rev B ditambah teknologi Produksi konten, Model Bisnis dan Promosi Komersial Web 2.0 akan menjadi wahana yang kondusif sekaligus memanjakan masyarakat untuk mengkonsumsi media tak hanya sebagai wahana hiburan, namun sekaligus media pemberdaya.

Monday, March 15, 2010

Statistic 2.0

Indonesia sudah bertengger di posisi nomer 3 pengakses Facebook di Dunia dengan 20 Juta Facebookers, sementara untuk wordpress Jakarta jadi kota dengan pengakses situs blogging itu terbanyak sejagat, di indonesia sendiri ada 6 Juta pengakses blogger. Pertumbuhan facebookers Indonesia konon tertinggi di dunia.

Konsumen Web 2.0 Indonesia ini di dorong oleh pertumbuhan pengguna layanan seluler yang merangkak mendekati angka 200 juta, pengguna BB yang sudah 1 Juta dan Broadband mencapai 300 ribu . Adanya always on internet, baik broadband unlimited, akses di lokasi kerja dan cable membuat gaya hidup online tumbuh. Kurva pertumbuhan model 'stik golf' sudah sedemikian nyata terlihat mirip apa yang kita saksikan di era awal booming mobile, SMS dan RBT.

Melihat posting yang masuk baik di page fb maupun group terlihat bahwa  fb apps dan online shoping mendominasi wall dan inbox, channeling bagi prilaku narsistik yang sebelumnya banyak mewarnai facebook dan kini berpindah mendorong pertumbuhan di twitter.

Indonesia menjadi konsumen social networking yang tumbuh pesat, namun sayang amat jarang konten dan partisipasi yang bisa memanfaatkan fenomena ini. Pengambil porsi terbesar sayangnya masih para pemain asing. Lagi lagi kita hanya menjadi kantong konsumen besar dunia.

Wednesday, March 3, 2010

Mob SoN ;)

MobSon yang saya maksud ini bukan berarti harfiah anak penjahat, namun singkatan tak lazim dari Mobile Social Network yang beberapa tahun belakangan ikut tumbuh pasca meledaknya Social Networking. Buat operator seluler bisa saja ada benarnya bahwa Mob SoN sempat seolah berperan sebagai si 'anak nakal', ketika pendapatan dari layanan messaging tradisional model SMS sempat terancam disubstitusi oleh pola interaksi baru. Chat dan fitur update di  situs jejaring sosial model  facebook, myspace bahkan pendahulunya friendster maupun aplikasi messaging populer model YM semat menggantikan fungsi SMS.

Namun siklus selanjutnya adalah penurunan di layanan messaging tradisional beralih ke peningkatan konsumsi data baik broadband maupun GPRS, yang dimungkinkan oleh akses terhadap situs jejaring sosial dan lahirnya aplikasi java dan layanan konten.Pengguna pun bisa menjalankan fungsi web messaging di hand phone nya. Hal ini tentu sangat logis dan alamiah ketika pengguna seolah ingin membebaskan diri dari ikatan akses di PC nya dan bergerak bebas menggunakan akses mobile.

Pengamatan saya ke beberapa Internet Cafe, kini kunjungannya meluas tak hanya dipenuhi segmen anak sekolah, bahkan lintas ekonomi dan kelas sosial. Sementara aktivitas utamanya tak lagi sekedar browse, chat, dan online gaming kini mayoritas membuka situs jejaring sosial, mengupdate status, berinteraksi atau sekedar browse. Kondisi negara kita dengan penetrasi internet yang belum merata menempatkan akses internet lewat HP bagi sebagian kalangan adalah akses termudah. Segmen dengan ARPU mobile 15 sd 20k ini memiliki ARPU Warnet 20 sd 30k sebulan, hal ini tentu menjadi potensi yang sulit diabaikan.

Kini hampir semua situs jejaring sosial dan messaging apps sudah memiliki komponen mobile nya masing-masing, ditambah keterlibatan ekosistem pengembang handset, maupun Mobile OS dan aplikasi baru yang semakin pro terhadap eksisnya Mob SoN. Sebut saja Android, yang dalam aplikasinya betapa memudahkan pengguna untuk mengupdate status facebook , twitter dll dalam interface yang intuitif. Bahkan positioning Blackberry belakangan tak sekedar tampil sebagai mobile email enabler, namun justru menjadi Gadget Mob SoN yang dianggap user friendly.

Juga munculnya beragam pilihan aplikasi dan plug in yang memperkaya pengalaman pengguna Mob Son.   Misalnya keasikan ber jejaring ditambah dengan eksisnya fungsi GPS di HP, beberapa situs Mob SoN baru memungkinkan pengguna untuk tak sekedar mengupdate statusnya namun menunjukan lokasi nya. Juga dimungkinkannya integrasi antara fungsi HP untuk memotret dengan upload di situs jejaring sosial, bahkan menggunakan Mob SoN untuk peran citizen journalism.

Beberapa operator pun sudah semakin kreatif dengan mencoba membangun alternatif jejaring sosialnya sendiri, TLKM dengan MyPulaunya dan Excelcom dengan My Book melengkapi beberapa enabler seperti mobinity dll. Eksperimentasi ini tentu menempatkan operator sebagai pemain, namun agaknya yang akan lebih sukses saat ini adalah pengembangan dari komunitas yang sudah terbentuk di situs jejaring sosial yang kadung populer, posisi operator tetap berperan sebagai penyedia akses memungkinkan Mob SoN di lihat dilayar HP, dan di update menggunakan  SMS. Yang menarik Cingular sempat berupaya menggandeng MySpace yang memungkinkan penggunanya mendapatkan SMS notifikasi untuk posting atau friend request di MySpace.
 
Mob SoN sekali lagi bukanlah si 'anak nakal' yang mengancam pendapatan operator, semakin dewasa semakin terlihat perilakunya menjadi lebih 'ramah' bahkan amat potensial mendukung bisnis operator seluler. Tinggal bagaimana melihat potensi ini dan mencoba mengamankannya.

Saturday, February 20, 2010

Tahun Si Macan

Si Macan yang satu ini memang luar biasa, setelah membuat khalayak tertegun oleh ke jeniusan fisikalnya, karena kenakalannya dia pun memutar balik jarum imagery ke titik berlawanan. Semula orang bersimpati karena kisahnya , perjuangannya sejak kecil, dn pencapaiannya yang seolah tak terkalahkan. Namun kini Tiger Woods menghadapi deruan sanksi moralitas massa pasca gaya hidup perselingkuhannya terkuak ke publik.

Di Pers Conference kemarin, tampilnya sang aktor ini terkesan too good to be true, terlihat bahwa setting, format, konten acara, bahkan angle kamera demikian highly choreographed. Seorang buaya lapangan hijau tentu amat sulit mendapatkan simpati publik pasca drama detail yang muncul di media ber minggu minggu. Akhirnya usaha ini pun tak banyak membantu Tiger, sehari sesudahnya hampir semua media mulai dari Jazeera, CNN, sampai Fox yang cablak menjadikan acara kemarin sebagai ajang interogasi. Tidak sekalian saja dipasang detektor kebohongan di ruang itu.

Namun kasus Tiger lebih dari sekedar krisis domestik, semata karena dia sudah menjadi multi billion brand. Masih ingat beberapa tahun lalu saya membeli polo shirt ber merek Nike-TW made in Bandung di sebuah FO di Cipanas, di FO ini harga nya tentu base price plus margin total 59 ribu rupiah, sementara bandrol yang tergantung di kaos Tiger Woods ini adalah 70 an USD atau lebih dari sepuluh kali lipat nya. Nama 'Si Macan' adalah cap mentereng yang mengangkat komoditi menjadi Luxury.

Pers Conference yang penuh rekayasa ini tak lain adalah sebuah pentas damage control untuk menyelamatkan Brand Tiger Woods , mencoba meng-infus Brand yang sakit ini dengan atribut atribut baru yang ditampilkan dalam format simbolik melalui tampilnya keluarga (ibu tiger), di quote nya spiritualitas budhism, para jurnalis yang terpilih, tak ada tanya jawab, intonasi dan drama. Arahnya jelas bahwa they couldn't afford to loose such huge brand investment, so they did what ever necessary to restore it.

Dari 'macan' menjadi 'buaya', dan berharap kembali menjadi 'macan' lagi dengan sentuhan 'air mata buaya' ;)

Tuesday, February 9, 2010

Viral Booster

It is true that  biological phenomenon inspired mankind to understand their being, the case of virus existence assure that. Virus word have a true meaning as poison, something terrible for human. More than 50 thousands kind of virus recognized life in our planet, a bunch of them just attack my family.

From the other point of view we may learn contrary perception which is positive. One of that is the virus way of replicate themselves which i considered as one of God's miracle. This writing will mark my stepping stone in learning how biological phenomenon inspired IT and Marketing through the help of virus.

Long time the words 'viral marketing' had become a buzzword, Management consultants McKinsey & Co. estimate that twothirds

of the US economy is driven by word of mouth. After Ponzi sheme and MLM which already negatively perceived,  the concept deals with how to ignite people to pass on the message from one to another self willingly, not just create word of mouth what more important is that to getting a message out with little time, minimal budgets, and maximum impact.

 To create such condition the credo of 'Content is a King' is really true. The content which people like to share, because if people like to pass it along thats what really about. So it is important to create and execute an idea that's intriguing enough to get consumers to interact. Viruses do not spread by chance. They let the high-frequency behaviors of their hosts carry them into new territories.

One of the successfull content strategy which already become a classic case was 'The Hire' movie created for BMW brand. This campaign was made after eight short film being made by eight well known director among them are Ang Lee, Guy Ritchie...the story highlighted the performance aspects of various BMW automobiles, and the end results were staggering: the series had been viewed over 100 million times in four years and had changed the way products were advertised. Several companies attempted to capitalize on the success of BMW's film series. In 2002, the Nissan car company produced their own short film featuring their newly reintroduced 350Z. Entitled The Run.

Yes ! high quality movie was the huge content for viral marketing, but The Hire campaign was suspended because the cost was so high. There are several tactical booster which can be add to amplify cheaper media presence. One of the idea was to create leak.

The release of the 2007 concept album Year Zero by Nine Inch Nails involved a leaking tactics, including the band leaving USB drives at concerts. This was followed up with a series of interlinked websites revealing clues and information about the dystopian future in which the album is set.

Other booster was rumors spreaded through gossip show, here in Indonesia the highest occupier of air wave are infotainment, one gossip show can ignite the first blow, and the tipping point will be reached after the artist become a centerpoint of the crowd with mic and camera, chasing their statement. Not long before people start to talk about the issue as the object of mind control.

For personal brand gossip media can be used, but it is too difficult to control how the perception will be created after control is under the media not the object. Media relation strategy can be applied to deal with such turbulence. The advanced form of it was when Richard Branson made headlines by appearing to jump naked into New York's Times Square to promote his company's new cell-phone service.

I have a silly idea that rather than advertise a serial of campaigns on Free calls, mobile operator may facilitate such manufactured leak that their service can be used for free if people use some secret code, this type of underground campaign will spread through social networks, people will send email, quoted in chat room even passed on from one group to another. People will talk about it, an information being leveraged as important tips, and those tips will spreaded as rumors. At the end of the day the operator can fill the air wave with concluded Ad that their brand is truly free, the secret code become common code, and another case sealed by success.

Viruses do not become epidemics until they reach the tipping point and those creature are smarter: They find a way into the host under the guise of another.

Monday, February 8, 2010

Gemeinschaft und Gesellschaft

Definisi baku (dan klasik) dari komunitas adalah kesamaan geografis, belakangan definisi ini mengalami enrichment dengan hadirnya internet. batas geografis menjadi fana, saat realitas adalah eksistensi nir ruang, dan ketersambungan terjadi meski minus kehadiran.

Sosiolog menambahkan pandangan lain tentang komunitas,  yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft. Yang pertama disebut dianggap lebih kuat ikatannya karena adanya faktor unity of will, Gemeinschaft bisa berupa ikatan kekerabatan (termasuk didalamnya ikatan kinship seperti klan, marga dll), sementara Gesellschaft lebih diikat oleh adanya kesamaan self interest.  Realitas dalam masyarakat, komunitas bisa dibangun atas campuran antara dua ciri ikatan diatas.

Disamping aspek struktural dari suatu komunitas, yang justru belakangan mendapat perhatian adalah aspek pengalaman nya (psikologis) yang sering digambarkan sebagai faktor sense of community. McMillan & Chavis merumuskan 4 elemen dari sense of community yaitu: 1) membership, 2) influence, 3) integration and fulfillment of needs, and 4) shared emotional connection.

Elemen pertama membership di bangun atas 5 atribut penting, yaitu: adanya batasan (boundaries) , Rasa aman dan penerimaan ,  sense of belonging dan identifikasi , personal investment , serta  sistem simbol yang sama. Sementara faktor pengaruh (influence) bekerja dalam dua hal:disatu sisi anggota komunitas merasa memiliki pengaruh pada group nya,dan kohesivitas group yang dibangun dengan adanya pengaruh dari group terhadap membernya.

Anggota komunitas akan merasa mendapatkan manfaat setelah berpartisipasi dalam komunitas, kondisi ini tak lain adalah elemen fulfillment. Dan adanya sejarah, kisah, dan keikutsertaan bersama dalam sesuatu mewujudkan  elemen shared of emotional connection.

Bergerak dari perspektif sense of community, sebuah situs pertemanan atau social network seperti facebook, juga fitur Blackberry Massenger, bahkan Mobile Services dan promo dapat di bangun. Tentu dengan memperhatikan elemen penentu berfungsinya sebuah komunitas, sehingga inovasi menjadi suatu hal yang membumi.

Wednesday, February 3, 2010

Two point O

Belakangan ini disamping blogging, facebook sudah demikian ngetopnya, dan yang menarik kalau dulu di era friendsters pengguna awalnya adalah teenagers belakangan sudah merambah ke ibu rumah tangga bahkan orang tua (seniors). Teknologi menjadi aspek yang tak lagi dominan , yang terlihat adalah usability, alias betapa pengalaman pengguna diperkaya fitur maupun interaksi yang dimungkinkan oleh facebook.

Tapi pengalaman saya dengan kultur inovasi baru ini tak harus berhenti sampai ikut menjadi facebookers saja, belakangan saya sedang gandrung dengan satu web apps yang namanya basecamp, aplikasi ini bermanfaat u mendukung manajemen proyek, yang belakangan saya dengar sempat digunakan Tim Kampanye Obama.

Dibalik itu semua ada kultur teknologi yang namanya Web 2.0. Saya sebut kultur bukan sekedar teknologi itu sendiri, karena bahkan mbah nya internet menganggap aplikasi ini sebagai haram jaddah inovasi internet.  Tak ada standar baru yang dilahirkan untuk mendukung konstruksi jargon Web 2.0, yang terjadi adalah pengalaman serta itikad kolektif banyak pihak untuk berinovasi dengan cara baru.

Yang menarik dari dimungkinkannya kolaborasi adalah terakumulasinya pengetahuan kolektif (collective intelligence), juga aspek tumbuhnya komunitas pengakses layanan ini tidak lahir sebagai buah pemasaran konvensional seperti iklan, namun lebih karena viral marketing yang terjadi karena menjalarnya rekomendasi antara satu user ke user yang lain. Dan lebih dahsyat lagi proses pembuatan aplikasi ini lahir juga karena kerja bareng dalam format peer production.

Dahsyatnya Web 2.0 belakangan dibantu dengan bergeraknya evolusi 3G mobile technology, juga handset technology. iPhone, Blackberry, juga Android yang belakangan muncul lebih dirasakan manfaatnya dengan hadirnya beragam aplikasi Web 2.0. Konsumen menuntut Smart Phone tak lagi sebagai gadget para pebisnis, kini Blackberry telah jadi genggaman abg.

Industri  bergerak kearah baru, dimana kolaborasi dan pemanfaatan Platform Web akan mewarnai lahirnya trend trend baru kedepan.

Tuesday, February 2, 2010

Hype Marketing: The Legend of iPad

Launch iPad tempohari memang sangat menarik untuk dikaji..............

Saya akan berusaha obyektif, dan paling siap dalam posisi ini karena saya bukan penganut Maccultism . Semata karena entry barrier econopsychology, saya benci dimanipulasi oleh pemegang merek yang mengkutip profit margin sedemikan tinggi model Microsoft, dan Nike........dan Apple.....tapi kini price barrier telah diruntuhkan oleh iPad yang konon sudah makin populis seperti mengikuti aura Obama belakangan (Bahkan socialist ?). Diluar pricing saya akan melihat dari sisi lain ketika Tim iPad sudah sedemikan komprehensifnya memanipulasi berbagai jenis media campaign mutakhir, memanfaatkan celah relung pemasaran yang bener benar atraktif.

Pertama adalah Rumors, Mac jagoan dalam menciptakan misteri, dan menstimulasi imajinasi jauh hari sebelum produk mereka luncurkan. Kalau saja kita ketikan entry apple rumors maka akan keluar 13 juta hasil pencarian google, ini menandakan bahwa sudah sedemikian massifnya rumors di ciptakan dan kini berpropagasi di internet.

Sementara bila kata itu ditambahkan dengan kata blog menjadi apple-rumor-blog maka hasil pencariannya akan menjadi 15 juta.Ya Apple memanfaatkan rumors melalui jejaring sosial dalam wujud blog, sebuah strategi komunikasi yang amat organik dengan melihat potensi alamiah manusia untuk cenderung mengungkap detail informasi yang tersembunyi. Apple menutup rapat informasi disatu sisi sambil pelan pelan membangun agitasi melalui link, leakage, statement, prediction, dan kesungguhan Apple untuk konsisten melahirkan produk2 yang revolusioner.

Setelah Rumors, eskalasi keingintahuan yang mengkristal digiring menuju peak experience melaui presentasi yang dahsyat dari CEO Apple, ditambah berbagai enhancer berupa video presentation, dan initiated review.

Presentasinya sendiri adalah seolah momen spiritual, betapa tidak Jobbs tampil seolah sebagai pengkhotbah diatas bukit; seorang ultimate product evangelist yang hadir ditengah arena dibawah kilau lampu sorot, dukungan kekuatan audio dan media presentasi utama. Seperti biasa Jobbs tampil casual, menggenggam produknya dan mengalir menyampaikan fitur demi fitur di selingi pendapat pribadinya, dengan santai dan penuh ekspresi excitement.....

Khusus mengenai video presentation ini saya melihat betapa kuat upaya persuasi dengan mengungkap sisi respond emosional terhadap produk, ketimbang mengungkap aspek teknologi produk itu sendiri.  Sang Director seolah membuat talent yang tak lain adalah awak Apple, mengungkap IPad dengan sangat emosional, seolah terharu, terkejut, bahkan terkagum ketika berusaha menerangkan produk besutannya sendiri. Lagi lagi aura pesan subliminal di sampaikan secara manusiawi.

Dan kali ini Apple menggunakan placement di the ultimate grammy award, kehadiran produk, aksen maupun atribut iPad dalam event yang menuai exposure global itu mengeskalasi awareness yang sudah dibangun teramplifikasi secara masif, tak berhenti hanya disitu jalinan dengan audiens pun di arahkan resolusinya melalui di endorse nya iTunes sebagai tempat untuk mengunduh konten grammy ini.


Sisi lain iPad ini menggugah saya, sebuah upaya yang sedemikian komprehensif yang tak berhenti mendera kita untuk hanyut turut dalam barisan konsumen mereka, namun tak hanya berhenti di situ ,mereka ingin membangun mereknya sebagai obyek fanatisme.....dan konsumennya adalah penganut setia sebuah gerakan spiritualitas komersial.............tulisan ini belum berhenti saya menantikan kelanjutan dari legenda pemasaran iPad ini sampai puncak berikutnya ketika iPad turun kebumi dan sudah siap dibeli.

.

Friday, January 29, 2010

Diskon yang kreatif

Merespon perang tarif tentu tak harus dengan melakukan diskon secara menyeluruh, produk perawatan tubuh seperti shampo, lotion, dan produk personal hygiene menggunakan pendekatan volume bonus untuk menambah value produknya. Kita bisa melihat kemasan sachet beberapa produk bertambah panjang, atau ukuran kemasan susu cair kegemaran anak saya jadi lebih besar.

Aspek visual pada kemasan untuk mengkomunikasikan value leverage memudahkan campaign produk, bagaimana dengan produk yang kemasanya irrelevan seperti layanan telekomunikasi ?. Agaknya efektivitas beriklan di media yang paling masif seperti TV tetap jadi pilihan utama, upaya peningkatan efektifitas kreatif dan konsistensi deraan (cumulative increments) placementlah yang jadi andalan.

Namun belakangan atribut murah mendapati noise serupa yang datang dari kompetitor konsisten mendengungkan pesan yang sama, konsumen bisa mencapai titik jenuh, bahkan kejenuhan bisa berbalik menjadi distrust. Beberapa eksekusi kreatif mencoba meningkatkan faktor like-ability iklan melalui endorser, humor dan alunan musik, namun like-ability yang tinggi bisa berbalik menurunkan daya tangkap (recall) audiens.  Orang bisa suka menonton iklan tertentu, menghapal lagunya, dialognya bahkan celetukannya. Namun belum tentu orang orang tergerak untuk suka pada produknya.

Direct mentioning suatu brand dengan satu kata atribut benefit brand itu secara konsisten mungkin bisa menjadi anchor persepsi konsumen, ujaran ber rima (rhyme), dialek, ujaran dan keunikan kata bisa dimanfaatkan.

Creative Execution pada dasarnya adalah sebuah upaya meracik berbagai bahan dan bumbu, karena tujuannya sama to satisfy the sense, and persuade mind to act further, the trully art of illusion.

Saturday, January 23, 2010

Not a prodigy, just like ducks to water


Inspired by the introduction of  Tapscott's growing up and grown up digital i wrote the title of this entry, i expirienced myself the maze of looking my 5 years old baby boy use PC easily with out any thorough introduction. I just showed him one or two clicks...vallaa then he swim in the net like a pro.

I remember long time a go being introduced with mosaic and telnet stuff, the complexity made me abandoned internet for a while, but now the firefox foxy interface....and cool youtube browse ability made humam spent hours in front of our always on internet station. BTW i placed the workstation in his room just besides his book collection near his lego bucket.

In the book my boy belongs to later generation who bathed in bits, and i hate to admit that even i try to avoid gaming usage but tapscott believe that such kids who get used to play game...the game can make them notice more in their field of vision, and even speed up their visual information processing capabilities. or in the simple words Their brain is changing (advancing ?).

Yes there is much controversy, digital immersion have positive impact not only do video gamers notice more but even 5 years old humam develop more spatials skills that are important for engineers, architect, chip designers and surgeons.The Net Generation mind is also incredibly flexible, adaptable, and multimedia savvy.

Last year i write a genealogical presentation for one of my boss, its all about how our prepaid brand gain the market dominance in teen segment, i put the internet as the final momentum of our ultimate positioning preposition towards the net generation, through the idea of growing up digital  i believe that the journey is not yet over.

Humam's generation will be better than mine, and so i continue add his lego, books, kumon, playing ball, our sofa wrestling together, pray together (promise to do it again tonite;) and many stimulation needed to enrich his journey through out his net childhood world.

Monday, January 18, 2010

From Free n Cheap (To Fish n Chips)

The nature of  market during economic crisis tend to enter the cyclical down turn to low cost competition, in Indonesian Telco we expirienced the toughest competition ever, price reaping campaign, freebies, and cost cutting deals can be easily read in all over operator print adds. The situation can not be resolved easily by using business as ussual approach.

Many analyst still believe that value strategy can be the resolution to deal with such price cut. I try to list down some of it which are important to be considered as  the multivitamin pills;)

First i would like to address one question: " Can we avoid head to head competition with low cost competitors by playing a different game ?".....the foolish answer is Yes ! tbut to answer such question i try to lay down two outstanding value preposition route:

The first value will be performance value differentiators, through this offer we may give incremental performance as an incentive for incremental cost. To have the performance leadership we need to make sure that constant inovation is already in the system, through the contant innovation we can become a moving target which difficult to be aimed at single bullet such as pricing.

Secondly will be giving the relational value differentiator, which deepen and induring relationship with customers from their expirience of using customized, integrated solutions and services.

Both are not easy, people tend to choose the shortest path, give away Free n Cheap, rather than cooking Fish n Chips.

Monday, January 11, 2010

Intuitive KISS

I just learned about new phrase : intuitive control

rather than call things as easy or classical saying of 'user friendly', intuitive control made us believe to use any system for the first time, features, or anything easily, .....thats why maybe iPhone could make it through the market.

The chasm theory which i read before, reminds me that technology product always have to get across the gap of users which doom to make most of those product fail to attract the critical mass.

.....is it true that intuition is the key to consumer decision? people in this era of digital abundance have to deal with the impact of such complexity, which corner our mind to take the shortest route and pick the simplicity out of mess.

i remember years a go when i attended special class for university entry test preparation, which taught me all the easy short cuts, formula, and even just a hint to do the test rapidly, and correct. What really happened was somebody else did all the hard work for us, and we just swallow it ....intuitively.

Regarding the product or service design ...so there will be the human factors to be considered, easiest work flow, simplicity, and the KISS credo i found...Keep It Simple and Smart as well