Showing posts with label On Creativity. Show all posts
Showing posts with label On Creativity. Show all posts

Sunday, December 23, 2012

Framed


Sepertinya Magnum cafe memang sengaja menciptakan antrian, bagian dari proses brand delivery-nya. Bahwa dng membuat org merasakan 'penderitaan' mengantri maka imagery eksklusivitas dan harapan di dorong sedemikian rupa shg saat moment of truth konsumsi terjadi maka merk magnum menyusup ke alam bawah sadar. Lihatlah setelah kita di persilahkan masuk , perjalanan memutar meniti karpet merah dan sisi display panjang, lalu masuk ruang yg suasananya ter bangun searah.
 
Saya juga memperhatikan ada lebih dari 5 meja kosong di dalam resto ini, bahkan di outdoor cafee nya belum ada seorangpun menempati, namun sewaktu saya meninggalkan lokasi, diluar ada lebih dari 10 orang mengantri, yang tentu seharusnya dapat tertampung didalam segera. Antrian tetap di pertahankan, orang yang mengantri tak tau apa yang terjadi di dalam. Diluar aspek strategi pemasaran yang unik, brand owner selaiknya memperhitungkan faktor etika. Membiarkan konsumen berdiri, sebagian orang tua dan anak anaknya, adalah sebentuk arogansi.  Marketing is an art of deception !

Friday, April 30, 2010

Couch Potato

Hadirnya HTML.5 dan semakin kuatnya afinitas kearah pengadopsian Teknologi Broadband fase generasi terbaru seperti HSPA, LTE dan EVDO rev B, belum lagi masa depan TV digital dengan DVBT semakin memberikan angin konvergensi multimedia ke dalam Internet, belakangan Google pun akan masuk dengan akan dilaunchnya perangkat google tv, TV berbasis OS android yang memungkinkan interface internet dan multimedia diakses dengan format memirsa televisi menggunakan keyboard sambil menghenyakkan diri di sofa empuk.

Demikian juga dengan konten, kini berbagai inovasi model bisnis mutakhir pasca TV Terstrial dan TV Kabel mulai diperkenalkan. Setelah era youtube, belakangan konten mengalir ke konsumen diperantarai oleh channel online milik media moghul (hulu.com), juga format brick'n'click yang menggabungkan digital conviniency, dengan pola rental klasik seperti yang ditawarkan netflix. Bahkan konsol game pun seperti sony psp, Wii dan XBox pun sudah bermutasi tak sekedar menjadi sarana permainan, kini mereka pun masuk menjadi kanal distribusi konten entertainment.

Industri elektronika konsumsi bergerak menyajikan fitur yang fenomenal, LED 3D yang semakin lebar, semakin tipis dan makin real. Pun ESPN yang berencana menampilkan piala dunia dengan format 3D, youtube mulai menampilkan konten 3D High Definition. Belum lah lagi Ultra Thin Window Walls TV, yang akan sangat lebar sekaligus sangat terlihat nyata seperti melihat ke jendela rumah kita. Ditambah juga dengan disempurnakannya HD TV menjadi Ultra Definition TV berkemampuan zooming.

Jika ruang keluarga kita semakin nyaman, waktu orang menyaksikan TV masa datang equals to Menonton TV + Waktu Baca Koran + Waktu browsing Internet + Main Game dll , maka time spent untuk menonton TV akan bertambah, agaknya ada peluang Industri indonesia memanfaatkan laju perubahan ini . Opportunity justru ada di konten kreatif nya, karena konteks budaya, bahasa, selera, dan mimpi adalah diferensiasi utama, atau berpuaskah kita hanya bermain di suplai kudapan lezat pengganti popcorn atau sekedar di industri furnitur Sofa Ultra nyaman pesaing Lazy Boy ?.

Industri kreatif  berpeluang bergeliat kearah menjadi Tuan rumah yang ramah buat pasar domestik maupun regional. Saatnya sekarang

Saturday, March 27, 2010

Imajinasi Kreatif

Setelah menonton film naga 3D itu Humam semakin tertarik dengan dunia animasi. Tentu saya tak rela membiarkan dia hanya menjadi konsumen produk Dreamworks, memposisikan tontonan sebagai leisure eskapis atau paling pol stimulus kecerdasan yang amat mahal. Sementara Bundanya lebih senang kalau stimulasi bisa di lakukan seketika melalui permainan aktif, perjalanan dan aktivitas yang kaya pengalaman lainnya.

Namun akhirnya saya menemukan satu pelajaran ringan bahwa saatnyalah ketika si anak menemukan ketertarikan, kita para orang tua berupaya kreatif memanfaatkan excitement itu untuk didorong melakukan hal hal berguna lainnya.

Selanjutnya anak ini saya ajak menjadi animator rumahan cilik. Ceritanya begini, saya ajak Humam untuk melanjutkan hobby menggambarnya menjadi proses menggambar yang lebih seru, yaitu dengan memasukan cerita melalui penokohan, alur dan elemen story telling lainnya untuk masuk memperkaya bidang gambarnya. Dan seketika  selesailah Humam menggambar kisah serunya itu (Kali ini dia bertutur tentang UFO, mobil balap dan pesawat tempur....what a weird story whatever ;)) berkembanglah gambar itu menjadi sebuah story board sederhana.

....saya ajak dia mengutak utik fungsi animation pada Microsoft Power Point, sambil menggunakan fungsi unduh gambar di google pics, dan referensi cerita dari youtube. Sejam kemudian kisah di bidang kertas sudah berpindah di ruang digital, dan valla ! tak terasa dengan slideshow maka animasi sederhana karya sang animator cilik ini pun lahir sudah, berikut dengan suara boom bang buzz nya hahahaha.

Sebentar lagi Humam sekolah, saya ingin dia mengeksplorasi banyak aktivitas sebelum memasuki sistem rigid yang padat kurikulum (bayangkan anak sekecil itu harus bersekolah dari pagi buta hingga petang....full day school katanya)

Saya ingin anak ini mengasiki minatnya........ yang kemudian merangsangnya untuk bermimpi, menggelembungkan mimpi-mimpinya itu....memotivasinya...mengejarnya...dan meraihnya nanti dikemudian hari...Amiin.

Friday, February 19, 2010

Glocalized: Berakar dan bertaji lokal

Membincangkan inovasi sering perhatian kita tersita untuk melirik gemerlap kemajuan teknologi informasi dan digital, padahal syarat eksistensial dari inovasi adalah market acceptance, dan tentu syarat perlu adanya penerimaan pasar adalah relevansi antara demand dengan atribut benefit yang muncul sebagai solusi. Jelas maka inovasi harus melalui proses kontekstualisasi sejak ide masih di langit kesadaran, sampai terwujud dalam realitas komersial. Itulah maka Teknologi informasi dan gemerlap dunia digital bukanlah satu satunya wahana bagi lahirnya temuan temuan baru.

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, saya ingat bahwa berbagai merek legendaris justru lahir karena besarnya kandungan alamiahnya. Mari kita jajarkan saja brand mendunia model Kecap Cap Bango, Sampoerna, Indomie, Kopi Kapal Api semuanya memiliki ciri yang sama yaitu kandungan lokal yang besar,yang kemudian di dukung oleh tingkat konsumsi nasional yang besar, baru kemudian bisa tampil di kancah dunia. Jadi agaknya sebelum sebuah produk inovasi mengglobal maka dia perlu kuat di pasar lokal terlebih dahulu.

Belakangan perhatian saya tersita oleh dua inovasi produk lokal yang menjanjikan, dimana keduanya mengandalkan kuatnya kandungan bahan baku lokal sambil membangun diferensiasi produk melalui kemampuan meracik campuran kandungan lokal itu sambil menyajikan solusi cerdas.

Pertama saya melirik sebuah minyak angin dengan aroma unik. Produk ini cerdas karena tampil beda ditengah dominasi eksisnya beragam produk sejenis yang sudah mapan. Baik dari segi kemasan, brand ,maupun atribut produknya yang amat berbeda. Jika minyak angin biasa identik dengan obat sakit, berbau menyengat, dan kemasan klasik menoinjolkan kemurnian dan warna minyaknya, maka Safe Care tampil layaknya produk minyak wangi. Kemasan roll on nya juga brand yang berbahasa inggris, dan klasifikasi produk baru yang diperkenalkannya yaitu minyak angin aromatherapy sungguh menonjolkan produk ini ketimbang minyak angin lainnya.

Pola distribusi klandesteinnya pun amat menarik, menggunakan jejaring klaster klaster kesehatan dan apotik menengah atas meunjukan betapa target yang disasar sangat relevan dengan keunikan posisi produk ini.

Produk kedua yang adalah Kopi Jahe 41, keberanian produk ini tampil ditengah pasar yang sedemikian crowded dan didominasi pemain besar sungguh mencengangkan saya. Betapa tidak bila kita sempatkan saja ke Hypermarket, maka produk kopi instan akan tampil berderet dalam satu lorong yang panjang.

Dengan metode distribusi klandestein juga produk ini mampu mendominasi warung kecil, warung kopi, tukang kopi keliling dan berbagai outlet menengah bawah. Kopi Jahe 41 menggunakan kandungan lokal, dengan produksi yang diawali inisiatif industri rumahan serta positioning produk yang tegas menyasar menengah kebawah, atribut produk ini dibangun konsisten dengan strategi pemasarannya. Kehadiran produk ini sempat memancing reaksi dari pemain besar untuk ikut masuk kepasar sejenis melawan keberhasilan nya eksis di ceruk pasar yang baru

Sudah menjadi realitas bahwa produk global terutama dari tiongkok akan mendera konsumen kita, namun keyakinan masih ada dengan hadirnya inovasi berakar dan bertaji lokal, berakar karena mengoptimalkan kandungan  bahan baku nusantara, sementara bertaji lokal karena mampu menjawab kebutuhan pasar indonesia dengan konsumsi konsumen yang merupakan kekuatan utamanya.

Tuesday, February 16, 2010

E-CR3471v3

Para orang tua cenderung anak anaknya jadi engineer, dokter, akuntan, dan banyak profesi lain yang mengedepankan kecanggihan otak kiri, namun kini trend baru sudah terkuak .Konon orang yang dominan berpikir dengan menggunakan bilik kanan otaknya akan survive bahkan unggul di dunia yang semakin kompleks ini, demikianlah tema besar tulisan Daniel Pink : A Whole New Mind: Why Right-brainers Will Rule the Future.

Dalam tulisannya Pink memetakan 4 zaman yang diawali dengan zaman agrikultur, lanjut ke industri, lalu informasi dan yang keempat Pink menamakannya sebagai era konseptual. Di era terakhir tersebut Pink memfokuskan bahasannya, pemikiran ini pun sempat dikutip Presiden SBY bahwa kini adalah era ekonomi gelombang ke empat, suatu era yang berorientasi pada kreativitas.

Kreativitas menurut Pink adalah competitive differentiator, ditengah kondisi kompetisi dan kelimpahan informasi yang sedemikian ketatnya untuk bisa terlihat maka diferensiasi amat penting. Buku ini banyak mendapatkan kritik karena lemah reasoning statistik nya (its about rightbrainer anyway) namun di Blog nya Pink sempat mengkutip sebuah fakta yang menarik. Bahwa resource waktu untuk menyelenggarakan semusim superbowl adalah 514 ribu jam kerja per tim nya, sama dengan 8 kali waktu yang dibutuhkan untuk mendesain, membuat, mendistribusikan iPod. Maka dengan resource yang sama satu tim superbowl bekerja bisa menghasilkan iPod, iPod shuffle, iPod nano, iPod Touch, dan empat generasi iPod selanjutnya.

Relevansi ekonomi koseptual dengan berbagai atributnya kini menjadi buzz word di Indonesia dengan kisah bertajuk ekonomi kreatif. Saya berharap mengemukanya konsep ekonomi kreatif bukan karena kegagalan industri Indonesia dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai jalur eskapisme, Deperindag pernah menyitir bahwa ekonomi kreatif kontribusinya sudah diatas 6% PDB, dan sudah melewati 10% total Ekspor Nasional.  Kontribusi industri kreatif sudah melampaui kontribusi sektor komunikasi, transportasi, listrik, dan air bersih dan 5 tahun kedepan dominasinya akan menguat di proyeksikan akan mengkontribusikan 10% PDB nasional.

Produk unggulan Industri Kreatif sudah banyak yang mendunia, saya terkejut ketika mengetahui bahwa Market Leader suplai mutiara global bukanlah Jepang, apalagi Qatar. 40% suplai mutiara global kini di pasok dari Indonesia.

5,4 Juta orang sudah mengais rezeki di sektor ini, dan bertumbuhnya pelaku menuntut kehadiran kelas pekerja baru (The creative class),  Terdapat 14 subsektor industri kreatif, beberapa sub sektor dominan seperti Periklanan, Fashion, Kerajinan, dan Musik sudah mengakar kuat dan dominan baik di pasar lokal maupun ekspor. Peluang masih terbuka lebar di sektor desain, konten multimedia, software, furniture, dll.

Beberapa momentum penting juga dicatat sebagai faktor kondusif, diantaranya eksisnya teknologi IP dan Mobile serta konvergensinya yang mempermudah produksi maupun distribusi beberapa produk kreatif. Kini hanya dengen beberapa pedesain sebuah UKM Digital bisa bekerja dalam format mobile workers, menggunakan web services, lalu menjual produknya secra global melalui jaringan internet dan jejaring sosial.

Peluang sedemikian besar terbentang, proses selanjutnya adalah obyektifikasi dan tentunya eksekusi !

Monday, February 15, 2010

Cr3471v3

Salah satu tujuan saya mengumpulkan mainan lego, kertas gambar dan crayon, beberapa puzzle, memasang Wii dan menginstall software encarta di komputer  supaya si Humam mendapat stimulasi yang cukup untuk berkembang menjadi anak yang kreatif.

Belakangan  saya melihat ada sedikit manfaat yang sudah mulai terlihat. Bibit bibit kreativitas mulai muncul, pesawat lego humam sudah semakin kompleks, sudah multi layer dan tidak selalu simetris. Dalam hal menggambar dan mewarnai, goresan pesawatnya tak lagi tunggal, namun sudah mulai banyak dan juga mengandung cerita yang agak seru. Nah mengenai Wii, Humam adalah pengguna casual, dia nggak terlalu eager main video game. Namun untuk mengoprek PC sudah lumayan, barusan dia sudah mulai bikin slide power point pertamanya.

Saya pingin juga me-mix bibit krteativitas itu dengan disiplin, karena belakangan distorsi kreativitas datang dari mahluk bernama pengekangan sekaligus pembiaran. mendiang Prof. Randi Pausch pernah menyitir bahwa kreativitas yang menjadi sari pati bakat penciptaan atau rekayasa lahir ketika si anak di beri keleluasaan seluasnya untuk berekspresi.Namun disisi lain saya ingin si Anak juga punya self control yang akan membuat ide dan kreativitas menjadi suatu hal yang executable, workable bahkan nantinya berguna.

Jadi Humam saat ini harus beresin mainannya dengan rapih, harus mandi sendiri dan pakai pakaian sendiri , makan sendiri, mulai punya jadwal dan dilatih merancang planning-nya secara mandiri. Dan sebagai reward-nya bulan depan saat ulang tahun, sepeda warna metallic incaran saya itu bolehlah jadi hadiah ulang tahunnya.

Thursday, January 28, 2010

Dream on !

Semalam menantikan press release apple tahun ini, di mac rumors site waktu masih sejam lima belas menit lagi, tak terasa peraduanlah jadi labuhan. Terbangun pagi akhirnya tampil juga inovasi mutakhir besutan apple bermerek iPad . Setelah belum sebulan menyaksikan Google melahirkan NexusOne, saya dibuat ternganga dengan produk yang demikian anehnya, too good to be true.

Saya termenung kok bisa negara seperti US melahirkan begitu banyak brand, dan inovasi. Ditengah kritik yang menerpa ekonominya, negara adidaya ini tak henti mengejutkan kita dengan kelahiran ide-ide segar dalam wujud beragam produk komersial. Konon kebangkitn korporasi di sana dikarenakan karena investasi demikian besar dari bangsa itu dalam satu modalitas hidup yang namanya demokrasi.

Sementara di depan kantor  ratusan orang berteriak teriak masih sibuk memperebutkan ruang politik pasca pemilu, demokrasi yang seharusnya menumbuhkan kebebasan berpikir melancarkan arus deras gagasan kok malah menjadi elemen distorsi yang paling kuat mengalihkan kita dari laju upaya menciptakan kemakmuran.

Saya termasuk berbahagia menyaksikan media dan kelompok2 strategis di masyarakat demikian bebasnya, namun amat disayangkan jika energi dan kesempatan ini di anulir dengan kacaunya tata kelola. Ruang hukum sebagai gelanggang penuntasan silang sengketa dibuyarkan dan di gantikan oleh gelanggang politik yang vested.

Kesenjangan antara demokrasi, kebebasan dan kemakmuran demikian mengganggu dan mengusik pikiran....