Monday, February 8, 2010

Gemeinschaft und Gesellschaft

Definisi baku (dan klasik) dari komunitas adalah kesamaan geografis, belakangan definisi ini mengalami enrichment dengan hadirnya internet. batas geografis menjadi fana, saat realitas adalah eksistensi nir ruang, dan ketersambungan terjadi meski minus kehadiran.

Sosiolog menambahkan pandangan lain tentang komunitas,  yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft. Yang pertama disebut dianggap lebih kuat ikatannya karena adanya faktor unity of will, Gemeinschaft bisa berupa ikatan kekerabatan (termasuk didalamnya ikatan kinship seperti klan, marga dll), sementara Gesellschaft lebih diikat oleh adanya kesamaan self interest.  Realitas dalam masyarakat, komunitas bisa dibangun atas campuran antara dua ciri ikatan diatas.

Disamping aspek struktural dari suatu komunitas, yang justru belakangan mendapat perhatian adalah aspek pengalaman nya (psikologis) yang sering digambarkan sebagai faktor sense of community. McMillan & Chavis merumuskan 4 elemen dari sense of community yaitu: 1) membership, 2) influence, 3) integration and fulfillment of needs, and 4) shared emotional connection.

Elemen pertama membership di bangun atas 5 atribut penting, yaitu: adanya batasan (boundaries) , Rasa aman dan penerimaan ,  sense of belonging dan identifikasi , personal investment , serta  sistem simbol yang sama. Sementara faktor pengaruh (influence) bekerja dalam dua hal:disatu sisi anggota komunitas merasa memiliki pengaruh pada group nya,dan kohesivitas group yang dibangun dengan adanya pengaruh dari group terhadap membernya.

Anggota komunitas akan merasa mendapatkan manfaat setelah berpartisipasi dalam komunitas, kondisi ini tak lain adalah elemen fulfillment. Dan adanya sejarah, kisah, dan keikutsertaan bersama dalam sesuatu mewujudkan  elemen shared of emotional connection.

Bergerak dari perspektif sense of community, sebuah situs pertemanan atau social network seperti facebook, juga fitur Blackberry Massenger, bahkan Mobile Services dan promo dapat di bangun. Tentu dengan memperhatikan elemen penentu berfungsinya sebuah komunitas, sehingga inovasi menjadi suatu hal yang membumi.

Sunday, February 7, 2010

Awass Virus....

Temperatur Humam mencapai 39 centigrade, kami was was mengingat humam punya sejarah kejang. Alhamdulillah kami sudah mempersenjatai diri dengan sedikit pengalaman plus ibuprofen, tempra, dan paracetamol. Ilmu memandikan dengan air hangat yang kami sempat praktekan ketika kami di doha pun kami pakai, dan hari ini panas humam sudah tidak teraba lagi. Sekarang giliran bundanya yang demam dan menggigil, duh.

Ditengah hujan deras dan angin semilir ini virus dimana mana, saya pun sempat mensimulasikan keberadaan mahluk renik ini pada humam. "Nak minum air putih itu bikin banjir melawan virus, sedang kan minum obat itu memasukan pasukan pelawan virus, lalu makan malam artinya mengirim tank buat menyerang virus di perut humam.......ayo nak lawan virus2 itu !", walhasil humam semangat melawan virus dengan minum obatnya, makan rotinya, dan  minum air putih yang banyak.

Simulasi dan Rasionalisasi model begini banyak manfaatnya, disatu sisi untuk mengajarkan anak satu konsep yg baru,  memudahkan anak mencerna ide yang kompleks, dan terakhir sbg media persuasi ;))

Saat menulis entry ini saya pun sedang bersin bersin, rasanya si mahluk renik sudah loncat dan membangun koloni baru di hidung yang basah ini. Hatchiiiiiiiiiiiiiiim  !

Wednesday, February 3, 2010

Two point O

Belakangan ini disamping blogging, facebook sudah demikian ngetopnya, dan yang menarik kalau dulu di era friendsters pengguna awalnya adalah teenagers belakangan sudah merambah ke ibu rumah tangga bahkan orang tua (seniors). Teknologi menjadi aspek yang tak lagi dominan , yang terlihat adalah usability, alias betapa pengalaman pengguna diperkaya fitur maupun interaksi yang dimungkinkan oleh facebook.

Tapi pengalaman saya dengan kultur inovasi baru ini tak harus berhenti sampai ikut menjadi facebookers saja, belakangan saya sedang gandrung dengan satu web apps yang namanya basecamp, aplikasi ini bermanfaat u mendukung manajemen proyek, yang belakangan saya dengar sempat digunakan Tim Kampanye Obama.

Dibalik itu semua ada kultur teknologi yang namanya Web 2.0. Saya sebut kultur bukan sekedar teknologi itu sendiri, karena bahkan mbah nya internet menganggap aplikasi ini sebagai haram jaddah inovasi internet.  Tak ada standar baru yang dilahirkan untuk mendukung konstruksi jargon Web 2.0, yang terjadi adalah pengalaman serta itikad kolektif banyak pihak untuk berinovasi dengan cara baru.

Yang menarik dari dimungkinkannya kolaborasi adalah terakumulasinya pengetahuan kolektif (collective intelligence), juga aspek tumbuhnya komunitas pengakses layanan ini tidak lahir sebagai buah pemasaran konvensional seperti iklan, namun lebih karena viral marketing yang terjadi karena menjalarnya rekomendasi antara satu user ke user yang lain. Dan lebih dahsyat lagi proses pembuatan aplikasi ini lahir juga karena kerja bareng dalam format peer production.

Dahsyatnya Web 2.0 belakangan dibantu dengan bergeraknya evolusi 3G mobile technology, juga handset technology. iPhone, Blackberry, juga Android yang belakangan muncul lebih dirasakan manfaatnya dengan hadirnya beragam aplikasi Web 2.0. Konsumen menuntut Smart Phone tak lagi sebagai gadget para pebisnis, kini Blackberry telah jadi genggaman abg.

Industri  bergerak kearah baru, dimana kolaborasi dan pemanfaatan Platform Web akan mewarnai lahirnya trend trend baru kedepan.

Tuesday, February 2, 2010

Hype Marketing: The Legend of iPad

Launch iPad tempohari memang sangat menarik untuk dikaji..............

Saya akan berusaha obyektif, dan paling siap dalam posisi ini karena saya bukan penganut Maccultism . Semata karena entry barrier econopsychology, saya benci dimanipulasi oleh pemegang merek yang mengkutip profit margin sedemikan tinggi model Microsoft, dan Nike........dan Apple.....tapi kini price barrier telah diruntuhkan oleh iPad yang konon sudah makin populis seperti mengikuti aura Obama belakangan (Bahkan socialist ?). Diluar pricing saya akan melihat dari sisi lain ketika Tim iPad sudah sedemikan komprehensifnya memanipulasi berbagai jenis media campaign mutakhir, memanfaatkan celah relung pemasaran yang bener benar atraktif.

Pertama adalah Rumors, Mac jagoan dalam menciptakan misteri, dan menstimulasi imajinasi jauh hari sebelum produk mereka luncurkan. Kalau saja kita ketikan entry apple rumors maka akan keluar 13 juta hasil pencarian google, ini menandakan bahwa sudah sedemikian massifnya rumors di ciptakan dan kini berpropagasi di internet.

Sementara bila kata itu ditambahkan dengan kata blog menjadi apple-rumor-blog maka hasil pencariannya akan menjadi 15 juta.Ya Apple memanfaatkan rumors melalui jejaring sosial dalam wujud blog, sebuah strategi komunikasi yang amat organik dengan melihat potensi alamiah manusia untuk cenderung mengungkap detail informasi yang tersembunyi. Apple menutup rapat informasi disatu sisi sambil pelan pelan membangun agitasi melalui link, leakage, statement, prediction, dan kesungguhan Apple untuk konsisten melahirkan produk2 yang revolusioner.

Setelah Rumors, eskalasi keingintahuan yang mengkristal digiring menuju peak experience melaui presentasi yang dahsyat dari CEO Apple, ditambah berbagai enhancer berupa video presentation, dan initiated review.

Presentasinya sendiri adalah seolah momen spiritual, betapa tidak Jobbs tampil seolah sebagai pengkhotbah diatas bukit; seorang ultimate product evangelist yang hadir ditengah arena dibawah kilau lampu sorot, dukungan kekuatan audio dan media presentasi utama. Seperti biasa Jobbs tampil casual, menggenggam produknya dan mengalir menyampaikan fitur demi fitur di selingi pendapat pribadinya, dengan santai dan penuh ekspresi excitement.....

Khusus mengenai video presentation ini saya melihat betapa kuat upaya persuasi dengan mengungkap sisi respond emosional terhadap produk, ketimbang mengungkap aspek teknologi produk itu sendiri.  Sang Director seolah membuat talent yang tak lain adalah awak Apple, mengungkap IPad dengan sangat emosional, seolah terharu, terkejut, bahkan terkagum ketika berusaha menerangkan produk besutannya sendiri. Lagi lagi aura pesan subliminal di sampaikan secara manusiawi.

Dan kali ini Apple menggunakan placement di the ultimate grammy award, kehadiran produk, aksen maupun atribut iPad dalam event yang menuai exposure global itu mengeskalasi awareness yang sudah dibangun teramplifikasi secara masif, tak berhenti hanya disitu jalinan dengan audiens pun di arahkan resolusinya melalui di endorse nya iTunes sebagai tempat untuk mengunduh konten grammy ini.


Sisi lain iPad ini menggugah saya, sebuah upaya yang sedemikian komprehensif yang tak berhenti mendera kita untuk hanyut turut dalam barisan konsumen mereka, namun tak hanya berhenti di situ ,mereka ingin membangun mereknya sebagai obyek fanatisme.....dan konsumennya adalah penganut setia sebuah gerakan spiritualitas komersial.............tulisan ini belum berhenti saya menantikan kelanjutan dari legenda pemasaran iPad ini sampai puncak berikutnya ketika iPad turun kebumi dan sudah siap dibeli.

.

Saturday, January 30, 2010

Alkisah Visual

Beberapa kawan dikantor di sini, teman teman seperjuangan, dan sebagian kolega di Doha sering mengidentikan saya dengan power point, disamping sering mendapat tugas untuk kantor sesekali saya mendapat order khusus untuk membuatkan beberapa bahan presentasi di berbagai forum. Semua presentasi itu saya buat sendiri, dan saya sajikan untuk dapat di sampaikan melalui orang lain.

Bulan ini saja ada berbagai materi presentasi di pipeline, mulai dari beberapa bahan untuk kerjaan di kantor, konferensi internasional di Singapura, sampai 'ekstra kurikuler' misalnya paparan tentang industri kreatif di sebuah Institut Teknologi,  slide tentang private placement untuk institusi pendidikan (untuk ditampilkan ke salah satu mantan presiden), dan Presentasi untuk parlemen di Timur Tengah.

Bahan diatas akan melengkapi koleksi slide di HDD saya yang sebagian besar tentang paparan terkait pekerjaan di kantor, juga diantaranya slide ke sebuah institusi militer, Strategi politik untuk sebuah Partai Politik, Presentasi di forum Chief Marketing Officer, Analisa Corporate Governance sebuah BUMN, Business Plan untuk jabang bayi Operator jaman dulu, Materi Fit and Proper seseorang, Materi gerakan counter-underground (jaman kuliah) dan masih banyak lagi lainnya.

Sejujurnya bahan bahan yang sudah dikembangkan terkesan biasa saja, kadang baik kualitasnya dan kadang jelek. Karena slide slide itu lahir dari sebuah proses kreatif , dibangun melalui referensi yang relevan dengan alur story telling maka kadang hasil racikannya pun amat tergantung banyak faktor. Mulai dari ketersediaan bahan dan bumbu, pemahaman saya sendiri, timing, framing, mood, dan kualitas brief dari si empunya sendiri. Itulah kesan dari serangkaian pengalaman empirik, namun belakangan pengalaman saja tak cukup sayapun sedang belajar mengais kepingan hikmah baru, rejuvenating !.


Pengembaraan selanjutnya kemudian menjerumuskan saya pada suatu momen proses pembuatan dashboard, dalam salah satu ikhtiar mencari alternatif solusi tampilan dashboard, saya mendapati satu nama ...tertulis Edward Tufte. Beliau adalah Profesor Statistik, sekaligus akademisi di bidang Politik dan Komputer, serta memimpin kajian Desain di Yale. Melalui bukunya The Visual Display of Quantitative Information dan buku lain Envisioning Information saya mendapati satu kata kunci baru yaitu Information Design.

Awalnya ranah Information Design adalah subset dari Graphic Design. Belakangan aspek estetika bukan yang utama, tuntutan untuk mengutamakan penyajian informasi yang efektif khususnya untuk mendukung wilayah baru seperti statistika, manajemen, ilmu komputer menggeser Information Design menjadi sebuah kajian yang multidisipliner. Yang menarik (saya kutip dari wikipedia) sbb:

On a fine scale, it includes logical development of topics, emphasis on what's important, clear writing, navigational clues, and even page design, choice of font, and use of white space.

Tanpa disadari apa yang saya alami belakangan seolah mendapatkan sandaran ilmiahnya, saya merasa tercerahkan dan bersemangat untuk terus mengkaji. Melalui perspektif baru ini maka serangkaian alur pesentasi perlu di desain sebagai kemasan informasi yang kreatif. Tufte bahkan mengkritik power point melalui salah satu karyanya   The Cognitive Style of PowerPoint, saya kutip saja bulat bulat sebagai berikut....agar tidak mengurangi maknanya, dimana Powr Point mendapati kritik nya sbb:
  1. It is used to guide and reassure a presenter, rather than to enlighten the audience;
  2. It has unhelpfully simplistic tables and charts, resulting from the low resolution of computer displays;
  3. The outliner causes ideas to be arranged in an unnecessarily deep hierarchy, itself subverted by the need to restate the hierarchy on each slide;
  4. Enforcement of the audience's linear progression through that hierarchy (whereas with handouts, readers could browse and relate items at their leisure);
  5. Poor typography and chart layout, from presenters who are poor designers and who use poorly designed templates and default settings;
  6. Simplistic thinking, from ideas being squashed into bulleted lists, and stories with beginning, middle, and end being turned into a collection of disparate, loosely disguised points. This may present an image of objectivity and neutrality that people associate with science, technology, and "bullet points".
Buat saya menjadi Information Designer adalah sebuah pekerjaan yang menyenangkan, sebuah langkah naik kelas dari sekedar peran seorang tukang power point.