Menonton Televisi adalah proses interaksi manusia dengan media yang paling intens, kadang kita mengabaikan betapa kuatnya reach TV tidak sekedar kuantitatif, namun sekaligus kualitatif. Nah yang juga luput dari perhatian kita adalah kenyataan bahwa konten media yang satu ini banyak yang negatif, juga ada beberapa yang baik, bahkan memiliki mixed impact.
Kalau belakangan saya asik meniti episode serial Criminal Minds tidak di TV, tapi di PC setelah mendownloadnya dari Torrent. Tak mengubah jejak media TV yang dulunya klasik kini berubah menjadi view through player atau tubing. Efeknya sama saja, saya terduduk diam, menyimak satu arah, dan jejaring synapsis saya tersambung secara kognitif dan emosional dengan alur kisah, latar musikal, mimik, dan suspense. Kebetulan serial Criminal Minds adalah media katarsistik saya karena acara menegangkan ini menarik saya keluar dari ketegangan lain yang sempat terjadi seharian setelah akumulasi stress menerobos macetnya jalan atau sekedar meniti angka angka di kantor.
Bedanya media baru yang memanfaatkan akses internet dan fungsi revolusional PC ini memiliki dampak sistemik. Lebih besar efeknya pada kita karena pertama dibanding TV, menoonton di PC bisa tanpa Jeda, dan sangat personal. Tak ada iklan yg berfungsi retreat itu, yang ada adalah deraan terus menerus dari konten yang kita sedang tonton. Tingkat konsumsi media pun bisa meningkat jauh, orang bisa menonton episode lebih banyak dan lebih komprehensif di PC ketimbang di TV.
Tak lagi ditemukan yang namanya batasan jadwal acara, tak ada lagi channel rights dan sensor, yang terjadi adalah kita memiliki kontrol sepenuhnya terhadap media yang bebas kontrol. Kondisi ini amat menguntungkan dalam memperkaya proses belajar namun membahayakan kita karena bisa merubah kita menjadi information junkies, bahkan zombi.
Serial Criminal Minds memang dahsyat, berbeda dengan CSI serial ini melihat kasus dari sisi pelakunya bukan obyek kriminalnya, profiling namanya. Kita bisa belajar betapa manusia adalah subyek dari kejadian, bukan sebaliknya. Nah yang buruk adalah penggambaran dan plotnya terkadang sangat gamblang, disturbing. Buat saya yang mencari ruang eskapisme kadang terkesan seru seiring menaiknya adrenalin karena ketegangan, namun apa dampaknya jika anak2 melihat darah dan berbagai simbolisasi kekejaman muncul di media ini.
Kontrol terhadap media agaknya masih make sense, bagaimana jika media itu internet? Saya percaya media bukanlah subyek, kitalah yang harus mengaturnya. Saya justru berterimakasih kalau negara membantu upaya ini, seperti yang saya alami di Qatar saya merasa terbantu karena negara telah memapas konten pornografi sehingga tak sulit menyatringnya untuk tidak dikonsumsi anak anak. Buah aksesibilitas informasi yang melimpah perlu diarahkan untuk kebaikan, semaksimal mungkin kita bisa.
Saturday, February 27, 2010
Saturday, February 20, 2010
Tahun Si Macan
Si Macan yang satu ini memang luar biasa, setelah membuat khalayak tertegun oleh ke jeniusan fisikalnya, karena kenakalannya dia pun memutar balik jarum imagery ke titik berlawanan. Semula orang bersimpati karena kisahnya , perjuangannya sejak kecil, dn pencapaiannya yang seolah tak terkalahkan. Namun kini Tiger Woods menghadapi deruan sanksi moralitas massa pasca gaya hidup perselingkuhannya terkuak ke publik.
Di Pers Conference kemarin, tampilnya sang aktor ini terkesan too good to be true, terlihat bahwa setting, format, konten acara, bahkan angle kamera demikian highly choreographed. Seorang buaya lapangan hijau tentu amat sulit mendapatkan simpati publik pasca drama detail yang muncul di media ber minggu minggu. Akhirnya usaha ini pun tak banyak membantu Tiger, sehari sesudahnya hampir semua media mulai dari Jazeera, CNN, sampai Fox yang cablak menjadikan acara kemarin sebagai ajang interogasi. Tidak sekalian saja dipasang detektor kebohongan di ruang itu.
Namun kasus Tiger lebih dari sekedar krisis domestik, semata karena dia sudah menjadi multi billion brand. Masih ingat beberapa tahun lalu saya membeli polo shirt ber merek Nike-TW made in Bandung di sebuah FO di Cipanas, di FO ini harga nya tentu base price plus margin total 59 ribu rupiah, sementara bandrol yang tergantung di kaos Tiger Woods ini adalah 70 an USD atau lebih dari sepuluh kali lipat nya. Nama 'Si Macan' adalah cap mentereng yang mengangkat komoditi menjadi Luxury.
Pers Conference yang penuh rekayasa ini tak lain adalah sebuah pentas damage control untuk menyelamatkan Brand Tiger Woods , mencoba meng-infus Brand yang sakit ini dengan atribut atribut baru yang ditampilkan dalam format simbolik melalui tampilnya keluarga (ibu tiger), di quote nya spiritualitas budhism, para jurnalis yang terpilih, tak ada tanya jawab, intonasi dan drama. Arahnya jelas bahwa they couldn't afford to loose such huge brand investment, so they did what ever necessary to restore it.
Dari 'macan' menjadi 'buaya', dan berharap kembali menjadi 'macan' lagi dengan sentuhan 'air mata buaya' ;)
Di Pers Conference kemarin, tampilnya sang aktor ini terkesan too good to be true, terlihat bahwa setting, format, konten acara, bahkan angle kamera demikian highly choreographed. Seorang buaya lapangan hijau tentu amat sulit mendapatkan simpati publik pasca drama detail yang muncul di media ber minggu minggu. Akhirnya usaha ini pun tak banyak membantu Tiger, sehari sesudahnya hampir semua media mulai dari Jazeera, CNN, sampai Fox yang cablak menjadikan acara kemarin sebagai ajang interogasi. Tidak sekalian saja dipasang detektor kebohongan di ruang itu.
Namun kasus Tiger lebih dari sekedar krisis domestik, semata karena dia sudah menjadi multi billion brand. Masih ingat beberapa tahun lalu saya membeli polo shirt ber merek Nike-TW made in Bandung di sebuah FO di Cipanas, di FO ini harga nya tentu base price plus margin total 59 ribu rupiah, sementara bandrol yang tergantung di kaos Tiger Woods ini adalah 70 an USD atau lebih dari sepuluh kali lipat nya. Nama 'Si Macan' adalah cap mentereng yang mengangkat komoditi menjadi Luxury.
Pers Conference yang penuh rekayasa ini tak lain adalah sebuah pentas damage control untuk menyelamatkan Brand Tiger Woods , mencoba meng-infus Brand yang sakit ini dengan atribut atribut baru yang ditampilkan dalam format simbolik melalui tampilnya keluarga (ibu tiger), di quote nya spiritualitas budhism, para jurnalis yang terpilih, tak ada tanya jawab, intonasi dan drama. Arahnya jelas bahwa they couldn't afford to loose such huge brand investment, so they did what ever necessary to restore it.
Dari 'macan' menjadi 'buaya', dan berharap kembali menjadi 'macan' lagi dengan sentuhan 'air mata buaya' ;)
Friday, February 19, 2010
Glocalized: Berakar dan bertaji lokal
Membincangkan inovasi sering perhatian kita tersita untuk melirik gemerlap kemajuan teknologi informasi dan digital, padahal syarat eksistensial dari inovasi adalah market acceptance, dan tentu syarat perlu adanya penerimaan pasar adalah relevansi antara demand dengan atribut benefit yang muncul sebagai solusi. Jelas maka inovasi harus melalui proses kontekstualisasi sejak ide masih di langit kesadaran, sampai terwujud dalam realitas komersial. Itulah maka Teknologi informasi dan gemerlap dunia digital bukanlah satu satunya wahana bagi lahirnya temuan temuan baru.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, saya ingat bahwa berbagai merek legendaris justru lahir karena besarnya kandungan alamiahnya. Mari kita jajarkan saja brand mendunia model Kecap Cap Bango, Sampoerna, Indomie, Kopi Kapal Api semuanya memiliki ciri yang sama yaitu kandungan lokal yang besar,yang kemudian di dukung oleh tingkat konsumsi nasional yang besar, baru kemudian bisa tampil di kancah dunia. Jadi agaknya sebelum sebuah produk inovasi mengglobal maka dia perlu kuat di pasar lokal terlebih dahulu.
Belakangan perhatian saya tersita oleh dua inovasi produk lokal yang menjanjikan, dimana keduanya mengandalkan kuatnya kandungan bahan baku lokal sambil membangun diferensiasi produk melalui kemampuan meracik campuran kandungan lokal itu sambil menyajikan solusi cerdas.
Pertama saya melirik sebuah minyak angin dengan aroma unik. Produk ini cerdas karena tampil beda ditengah dominasi eksisnya beragam produk sejenis yang sudah mapan. Baik dari segi kemasan, brand ,maupun atribut produknya yang amat berbeda. Jika minyak angin biasa identik dengan obat sakit, berbau menyengat, dan kemasan klasik menoinjolkan kemurnian dan warna minyaknya, maka Safe Care tampil layaknya produk minyak wangi. Kemasan roll on nya juga brand yang berbahasa inggris, dan klasifikasi produk baru yang diperkenalkannya yaitu minyak angin aromatherapy sungguh menonjolkan produk ini ketimbang minyak angin lainnya.
Pola distribusi klandesteinnya pun amat menarik, menggunakan jejaring klaster klaster kesehatan dan apotik menengah atas meunjukan betapa target yang disasar sangat relevan dengan keunikan posisi produk ini.
Produk kedua yang adalah Kopi Jahe 41, keberanian produk ini tampil ditengah pasar yang sedemikian crowded dan didominasi pemain besar sungguh mencengangkan saya. Betapa tidak bila kita sempatkan saja ke Hypermarket, maka produk kopi instan akan tampil berderet dalam satu lorong yang panjang.
Dengan metode distribusi klandestein juga produk ini mampu mendominasi warung kecil, warung kopi, tukang kopi keliling dan berbagai outlet menengah bawah. Kopi Jahe 41 menggunakan kandungan lokal, dengan produksi yang diawali inisiatif industri rumahan serta positioning produk yang tegas menyasar menengah kebawah, atribut produk ini dibangun konsisten dengan strategi pemasarannya. Kehadiran produk ini sempat memancing reaksi dari pemain besar untuk ikut masuk kepasar sejenis melawan keberhasilan nya eksis di ceruk pasar yang baru
Sudah menjadi realitas bahwa produk global terutama dari tiongkok akan mendera konsumen kita, namun keyakinan masih ada dengan hadirnya inovasi berakar dan bertaji lokal, berakar karena mengoptimalkan kandungan bahan baku nusantara, sementara bertaji lokal karena mampu menjawab kebutuhan pasar indonesia dengan konsumsi konsumen yang merupakan kekuatan utamanya.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, saya ingat bahwa berbagai merek legendaris justru lahir karena besarnya kandungan alamiahnya. Mari kita jajarkan saja brand mendunia model Kecap Cap Bango, Sampoerna, Indomie, Kopi Kapal Api semuanya memiliki ciri yang sama yaitu kandungan lokal yang besar,yang kemudian di dukung oleh tingkat konsumsi nasional yang besar, baru kemudian bisa tampil di kancah dunia. Jadi agaknya sebelum sebuah produk inovasi mengglobal maka dia perlu kuat di pasar lokal terlebih dahulu.
Belakangan perhatian saya tersita oleh dua inovasi produk lokal yang menjanjikan, dimana keduanya mengandalkan kuatnya kandungan bahan baku lokal sambil membangun diferensiasi produk melalui kemampuan meracik campuran kandungan lokal itu sambil menyajikan solusi cerdas.
Pertama saya melirik sebuah minyak angin dengan aroma unik. Produk ini cerdas karena tampil beda ditengah dominasi eksisnya beragam produk sejenis yang sudah mapan. Baik dari segi kemasan, brand ,maupun atribut produknya yang amat berbeda. Jika minyak angin biasa identik dengan obat sakit, berbau menyengat, dan kemasan klasik menoinjolkan kemurnian dan warna minyaknya, maka Safe Care tampil layaknya produk minyak wangi. Kemasan roll on nya juga brand yang berbahasa inggris, dan klasifikasi produk baru yang diperkenalkannya yaitu minyak angin aromatherapy sungguh menonjolkan produk ini ketimbang minyak angin lainnya.
Pola distribusi klandesteinnya pun amat menarik, menggunakan jejaring klaster klaster kesehatan dan apotik menengah atas meunjukan betapa target yang disasar sangat relevan dengan keunikan posisi produk ini.
Produk kedua yang adalah Kopi Jahe 41, keberanian produk ini tampil ditengah pasar yang sedemikian crowded dan didominasi pemain besar sungguh mencengangkan saya. Betapa tidak bila kita sempatkan saja ke Hypermarket, maka produk kopi instan akan tampil berderet dalam satu lorong yang panjang.
Dengan metode distribusi klandestein juga produk ini mampu mendominasi warung kecil, warung kopi, tukang kopi keliling dan berbagai outlet menengah bawah. Kopi Jahe 41 menggunakan kandungan lokal, dengan produksi yang diawali inisiatif industri rumahan serta positioning produk yang tegas menyasar menengah kebawah, atribut produk ini dibangun konsisten dengan strategi pemasarannya. Kehadiran produk ini sempat memancing reaksi dari pemain besar untuk ikut masuk kepasar sejenis melawan keberhasilan nya eksis di ceruk pasar yang baru
Sudah menjadi realitas bahwa produk global terutama dari tiongkok akan mendera konsumen kita, namun keyakinan masih ada dengan hadirnya inovasi berakar dan bertaji lokal, berakar karena mengoptimalkan kandungan bahan baku nusantara, sementara bertaji lokal karena mampu menjawab kebutuhan pasar indonesia dengan konsumsi konsumen yang merupakan kekuatan utamanya.
Wednesday, February 17, 2010
Buon giorno !
Pagi ini terasa nyaman, berangkat dari rumah saya sempatkan membuka dua jendela kamar. Nikmatnya hembusan dingin lembut udara pagi saya rasakan sebentar, disisakan semuanya untuk anak-anak yang masih lelap tersenyum. Disamping deraan oksigen yang menggantikan dominasi zat arang dikamar, saya pun menikmati pemandangan indah , wajah si kecil Azzam biasanya terlihat berpendar seolah bercahaya dipagi hari.
Rutinitas awal hari selalu indah, karena seolah alam ini di rejuvinate, di seting ulang dengan indahnya. Para ilmuwan mengungkapkan betapa sistem embun pagi menangkap partikel debu dan polutan setiap harinya. Semakin siang, semakin terbebas debu dan polutan itu dari cengkraman embun pagi, dan kita merasakan ringanya tarikan nafas saat fajar terkuak.
Jiwa kitapun mendapati manfaat, karena di Jakarta kemacetan adalah faktor penyebab stress yang dominan. terlebih semakin siang semakin kompleks konten siaran radio di mobil diisi dengan debat dan talkshow prime time yang cenderung meng-amplify faktor stress itu. Sementara sebelum jam 6 stasiun radio seolah mengalunkan kombinasi spiritualitas, dan kesejukan menambah suasana nyamannya jalan yang lapang hingga tujuan.
Keindahan pagi pun bisa di kondisikan dengan berbagai aktifitas tambahan, namun yang paling terasa dampaknya adalah sentuhan spiritual. Tak heran agama seolah memaksa kita untuk memulai aktivitas sedini mungkin dan melanjutkannya di waktu yang tepat, waktu duha. Sunnah yang satu ini konon diibaratkan sebagai sedekah yang meliputi berbagai sedekah, bagi saya hikmahnya adalah betapa sedekah ini terasa tak hanya bagi yang didoakan namun subyeknya adalah kita sendiri yang seolah berdamai dengan hari diawal ketika kita memulainya
Ada lebih dari 250 cara mengucapkan selamat pagi, bagi saya tulisan ini cukup melukiskan senyuman yang saat ini tergambar di wajah dan hati saya.
Rutinitas awal hari selalu indah, karena seolah alam ini di rejuvinate, di seting ulang dengan indahnya. Para ilmuwan mengungkapkan betapa sistem embun pagi menangkap partikel debu dan polutan setiap harinya. Semakin siang, semakin terbebas debu dan polutan itu dari cengkraman embun pagi, dan kita merasakan ringanya tarikan nafas saat fajar terkuak.
Jiwa kitapun mendapati manfaat, karena di Jakarta kemacetan adalah faktor penyebab stress yang dominan. terlebih semakin siang semakin kompleks konten siaran radio di mobil diisi dengan debat dan talkshow prime time yang cenderung meng-amplify faktor stress itu. Sementara sebelum jam 6 stasiun radio seolah mengalunkan kombinasi spiritualitas, dan kesejukan menambah suasana nyamannya jalan yang lapang hingga tujuan.
Keindahan pagi pun bisa di kondisikan dengan berbagai aktifitas tambahan, namun yang paling terasa dampaknya adalah sentuhan spiritual. Tak heran agama seolah memaksa kita untuk memulai aktivitas sedini mungkin dan melanjutkannya di waktu yang tepat, waktu duha. Sunnah yang satu ini konon diibaratkan sebagai sedekah yang meliputi berbagai sedekah, bagi saya hikmahnya adalah betapa sedekah ini terasa tak hanya bagi yang didoakan namun subyeknya adalah kita sendiri yang seolah berdamai dengan hari diawal ketika kita memulainya
Ada lebih dari 250 cara mengucapkan selamat pagi, bagi saya tulisan ini cukup melukiskan senyuman yang saat ini tergambar di wajah dan hati saya.
Tuesday, February 16, 2010
E-CR3471v3
Para orang tua cenderung anak anaknya jadi engineer, dokter, akuntan, dan banyak profesi lain yang mengedepankan kecanggihan otak kiri, namun kini trend baru sudah terkuak .Konon orang yang dominan berpikir dengan menggunakan bilik kanan otaknya akan survive bahkan unggul di dunia yang semakin kompleks ini, demikianlah tema besar tulisan Daniel Pink : A Whole New Mind: Why Right-brainers Will Rule the Future.
Dalam tulisannya Pink memetakan 4 zaman yang diawali dengan zaman agrikultur, lanjut ke industri, lalu informasi dan yang keempat Pink menamakannya sebagai era konseptual. Di era terakhir tersebut Pink memfokuskan bahasannya, pemikiran ini pun sempat dikutip Presiden SBY bahwa kini adalah era ekonomi gelombang ke empat, suatu era yang berorientasi pada kreativitas.
Kreativitas menurut Pink adalah competitive differentiator, ditengah kondisi kompetisi dan kelimpahan informasi yang sedemikian ketatnya untuk bisa terlihat maka diferensiasi amat penting. Buku ini banyak mendapatkan kritik karena lemah reasoning statistik nya (its about rightbrainer anyway) namun di Blog nya Pink sempat mengkutip sebuah fakta yang menarik. Bahwa resource waktu untuk menyelenggarakan semusim superbowl adalah 514 ribu jam kerja per tim nya, sama dengan 8 kali waktu yang dibutuhkan untuk mendesain, membuat, mendistribusikan iPod. Maka dengan resource yang sama satu tim superbowl bekerja bisa menghasilkan iPod, iPod shuffle, iPod nano, iPod Touch, dan empat generasi iPod selanjutnya.
Relevansi ekonomi koseptual dengan berbagai atributnya kini menjadi buzz word di Indonesia dengan kisah bertajuk ekonomi kreatif. Saya berharap mengemukanya konsep ekonomi kreatif bukan karena kegagalan industri Indonesia dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai jalur eskapisme, Deperindag pernah menyitir bahwa ekonomi kreatif kontribusinya sudah diatas 6% PDB, dan sudah melewati 10% total Ekspor Nasional. Kontribusi industri kreatif sudah melampaui kontribusi sektor komunikasi, transportasi, listrik, dan air bersih dan 5 tahun kedepan dominasinya akan menguat di proyeksikan akan mengkontribusikan 10% PDB nasional.
Produk unggulan Industri Kreatif sudah banyak yang mendunia, saya terkejut ketika mengetahui bahwa Market Leader suplai mutiara global bukanlah Jepang, apalagi Qatar. 40% suplai mutiara global kini di pasok dari Indonesia.
5,4 Juta orang sudah mengais rezeki di sektor ini, dan bertumbuhnya pelaku menuntut kehadiran kelas pekerja baru (The creative class), Terdapat 14 subsektor industri kreatif, beberapa sub sektor dominan seperti Periklanan, Fashion, Kerajinan, dan Musik sudah mengakar kuat dan dominan baik di pasar lokal maupun ekspor. Peluang masih terbuka lebar di sektor desain, konten multimedia, software, furniture, dll.
Beberapa momentum penting juga dicatat sebagai faktor kondusif, diantaranya eksisnya teknologi IP dan Mobile serta konvergensinya yang mempermudah produksi maupun distribusi beberapa produk kreatif. Kini hanya dengen beberapa pedesain sebuah UKM Digital bisa bekerja dalam format mobile workers, menggunakan web services, lalu menjual produknya secra global melalui jaringan internet dan jejaring sosial.
Peluang sedemikian besar terbentang, proses selanjutnya adalah obyektifikasi dan tentunya eksekusi !
Dalam tulisannya Pink memetakan 4 zaman yang diawali dengan zaman agrikultur, lanjut ke industri, lalu informasi dan yang keempat Pink menamakannya sebagai era konseptual. Di era terakhir tersebut Pink memfokuskan bahasannya, pemikiran ini pun sempat dikutip Presiden SBY bahwa kini adalah era ekonomi gelombang ke empat, suatu era yang berorientasi pada kreativitas.
Kreativitas menurut Pink adalah competitive differentiator, ditengah kondisi kompetisi dan kelimpahan informasi yang sedemikian ketatnya untuk bisa terlihat maka diferensiasi amat penting. Buku ini banyak mendapatkan kritik karena lemah reasoning statistik nya (its about rightbrainer anyway) namun di Blog nya Pink sempat mengkutip sebuah fakta yang menarik. Bahwa resource waktu untuk menyelenggarakan semusim superbowl adalah 514 ribu jam kerja per tim nya, sama dengan 8 kali waktu yang dibutuhkan untuk mendesain, membuat, mendistribusikan iPod. Maka dengan resource yang sama satu tim superbowl bekerja bisa menghasilkan iPod, iPod shuffle, iPod nano, iPod Touch, dan empat generasi iPod selanjutnya.
Relevansi ekonomi koseptual dengan berbagai atributnya kini menjadi buzz word di Indonesia dengan kisah bertajuk ekonomi kreatif. Saya berharap mengemukanya konsep ekonomi kreatif bukan karena kegagalan industri Indonesia dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai jalur eskapisme, Deperindag pernah menyitir bahwa ekonomi kreatif kontribusinya sudah diatas 6% PDB, dan sudah melewati 10% total Ekspor Nasional. Kontribusi industri kreatif sudah melampaui kontribusi sektor komunikasi, transportasi, listrik, dan air bersih dan 5 tahun kedepan dominasinya akan menguat di proyeksikan akan mengkontribusikan 10% PDB nasional.
Produk unggulan Industri Kreatif sudah banyak yang mendunia, saya terkejut ketika mengetahui bahwa Market Leader suplai mutiara global bukanlah Jepang, apalagi Qatar. 40% suplai mutiara global kini di pasok dari Indonesia.
5,4 Juta orang sudah mengais rezeki di sektor ini, dan bertumbuhnya pelaku menuntut kehadiran kelas pekerja baru (The creative class), Terdapat 14 subsektor industri kreatif, beberapa sub sektor dominan seperti Periklanan, Fashion, Kerajinan, dan Musik sudah mengakar kuat dan dominan baik di pasar lokal maupun ekspor. Peluang masih terbuka lebar di sektor desain, konten multimedia, software, furniture, dll.
Beberapa momentum penting juga dicatat sebagai faktor kondusif, diantaranya eksisnya teknologi IP dan Mobile serta konvergensinya yang mempermudah produksi maupun distribusi beberapa produk kreatif. Kini hanya dengen beberapa pedesain sebuah UKM Digital bisa bekerja dalam format mobile workers, menggunakan web services, lalu menjual produknya secra global melalui jaringan internet dan jejaring sosial.
Peluang sedemikian besar terbentang, proses selanjutnya adalah obyektifikasi dan tentunya eksekusi !
Subscribe to:
Posts (Atom)





